English (Inggris) 汉语 (Mandarin Sederhana) 日本語 (Jepang)
CATATAN: Semua pilihan bahasa yang ada di atas, akan membuka terjemahan dari blog ini melalui peranti lunak, jadi mungkin terjadi beberapa kesalahan.

* S E L A M A T   D A T A N G ! ! *

di: 'Isamu no Heya' yang telah dibuat sejak Oktober 2008!

_______________________________________________________

Saya, selaku pengurus blog 'Isamu no Heya'
dan Zarambie Entertainment, mengucapkan:
"Selamat Membaca!"

_______________________________________________________

Terima kasih bagi Anda yang setia berkunjung ke blog ini.
Catatan: Tautan sudah dapat dipergunakan kembali.

Ingin hadiah? klik di sini! [Lihat semua kuis]
Ada saran? klik di sini!

Untuk melihat posting dengan topik tertentu, silakan klik salah satu tautan ini:
> Informasi : informasi terkini tentang blog ini, termasuk apa yang akan ada di sini
> Pengalaman : kisah pengalaman pribadi yang layak dibagi, bak acara Body in Numbers
> Promosi : produk dan layanan terbaru dari Zarambie Entertainment
> Berita : berita dan liputan terkini, termasuk berita dunia ICT/TIK
> Cerita : cerita bersambung saduran & buatan saya (saat ini FFX & Grandia)

Untuk melihat posting lebih lama, pilih lah dari bagan arsip blog di bawah ini,
atau akses lah blog ini dalam tampilan dinamis yang baru.

Arsip Jurnal

Selasa, 06 September 2011

Akhirnya setelah kosong selama dua bulan kemarin, akibat sibuknya di masa-masa ujian dan juga koreksi, tibalah di masa-masa semester pendek yang lebih santai sehingga saya bisa kembali menuliskan entri di blog saya ini. Pada kiriman yang kali ini, akhirnya selesai lah tetralogi kisah wisata saya ke Pulau Tidung yang mendebarkan. (sedikit berlebihan kah? :D) Untuk kiriman yang sebelumnya bisa dilihat di sini:

Waktu bebas di hari kedua

Malam cepat sekali berlalu. Tidak terasa sudah tiba di hari kedua saya di Pulau Tidung ini. Walaupun beberapa sudah sungguhan bangun lebih awal dari saya dan saya sempat tahu hal itu, saya masih berada di atas kasur. Beberapa mungkin sudah bersiap untuk berangkat kembali ke bagian belakang pulau Tidung.

Pada akhirnya, karena ternyata yang lainnya sudah mau berangkat, saya pun dibangunkan. Tanpa mandi maupun tukar pakaian, saya langsung ikut mereka berangkat, walaupun sesungguhnya masih mengantuk. Seperti di hari sebelumnya, di saat yang lain menempuh perjalanannya dengan sepeda, saya diantarkan pemandu lokal ke tempat tujuan menggunakan sepeda motor.

Setelah tiba, saya bersama beberapa yang lainnya makan dahulu di warung yang ada di sana. Saya sendiri memesan mi goreng dan teh manis hangat. Ada pula yang memesan porsi dobel. Di sini, saya bersantai dahulu sejenak sambil menikmati pagi hari di dekat pantai. Beberapa yang lainnya ada pula yang meminjam dan memainkan bola di lapangan yang juga sudah tersedia di sana bersama dengan para pengunjung lainnya, maupun ada juga pula yang menaiki banana boat.

Mencoba banana boat


Setelah rombongan yang pertama kembali usai menaiki banana boat, kini saatnya giliran rombongan saya yang mencoba wahana ini. Satu banana boat ini, hanya bisa dinaiki oleh lima orang saja. Kali ini saya bersama Antoni, Ferenkey, Irsyad, dan Jeffry lah yang menaikinya. Terus terang ini adalah pengalaman pertama saya menaiki banana boat, sedikit takut pula pada awalnya.


Kami saat berada di atas banana boat.
Banana boat sudah didekatkan ke pantai pada awalnya. Kami pun diberikan jaket keselamatan terlebih dahulu. Saya juga menitipkan dahulu jam tangan dan tas jinjing saya sebelumnya, karena tidak mungkin saya membawanya bersama saya saat menaiki banana boat ini. Setelah itu, saya bersama yang lain pun mulai menaikinya. Untuk duduknya sendiri, di sini kaki kita hanya tinggal menjepit kapal karet tersebut lalu tangan menggenggam tali yang ada di depan kita. Setelah semua siap, seorang pengawas duduk di paling belakang banana boat sedangkan sang pengemudi bersiap menyalakan mesin kapal motor yang ada di depan untuk menarik banana boat kita ini.

Dimulailah perjalanan ini. Menurut saya, pada awalnya hal ini cukup menyenangkan. Melihat suasana laut di pagi hari, merasakan cipratan air laut yang terpercik dari kiri dan kanan saya. Dan ternyata, perjalanan berlanjut. Kami terus dibawa menjauhi pantai, melewati bawah jembatan, dan belum berbalik. Setelah berada cukup jauh dari pantai, mulailah kapal tersebut dibelokkan arahnya secara tajam dan juga dimiringkan, dan tentunya kami semua terjatuh dari kapal tersebut. Kata yang melihat dari kejauhan, selain kapal yang membelok tajam secara tiba-tiba, pengawas yang di belakang juga memiringkan kapal kami agar semuanya terjatuh.

Pengalaman kedua berada di laut lepas

Ini adalah pertama kalinya saya benar-benar terlepas di laut. Jika pada saat kemarin saya masih dapat berpegangan di dinding kapal, saat ini tidak bisa lagi. Banana boat sudah berlalu jauh dan sekarang sedang berbalik arah untuk menjemput kami kembali. Sebenarnya, cukup panik dan takut juga pada saat saya pertama kali terjatuh dari kapal tersebut. Walaupun sudah menggunakan jaket keselamatan, tentunya tidak bisa mengapung begitu saja. Pada awalnya tubuh saya benar-benar berada di dalam air laut yang kehijauan pada saat itu sepenuhnya, dan harus menahan napas. Setelah mencoba menggapai permukaan air, tak lama setelah itu, saya bisa mengapung kembali di permukaan. Hal ini benar-benar menghilangkan rasa kantuk saya.

Setelah itu, kami harus menghampiri kembali banana boat tersebut. Sedikit kesulitan juga untuk menghampirinya, karena saya tidak bisa menjejaki tanah untuk melangkah dan juga saya tidak bisa berenang. Dan karena ini adalah pertama kalinya, jadi saya sedikit lama untuk menghampirinya. Untungnya ada teman-teman dan juga pengawasnya yang membantu saya baik dalam menghampiri kembali kapal tersebut maupun dalam menaiki kembali kapal tersebut di tengah lautan.

Setelah berusaha, kini saya sudah berada di atas kapal lagi. Tidak sengaja saya berada di bagian paling depan kapal tersebut. Teman-teman menyarankan agar saya duduk agak ke ke belakang saja. Ya, karena saya sedikit takut dalam hal ini. Saya mengikuti saja, karena dipikir-pikir, di belakang sepertinya lebih tidak menyeramkan jika dibandingkan dengan di depan. Selain itu jika di belakang saya bisa berpegangan dengan teman saya yang di depan, dan hal ini saya lakukan.

Perjalanan pun dimulai kembali setelah semua 'penumpang' sudah berada kembali di atas kapal. Salah satu teman saya mengatakan bahwa saat ia ber-banana boat di tempat lain hanya dijatuhkan sekali. Berharap terjadi juga demikian di sini, namun ternyata katanya di sini kita akan dijatuhkan sebanyak tiga kali.... Yang kedua kali terjadi saat kapal sudah mengarah kembali ke pantai. Saya sudah tidak terlalu panik yang berlebihan di yang kedua ini. Setelah itu kapal dimiringkan sekali lagi, sepertinya akan menjadi yang ketiga kalinya. Namun ternyata tidak, kapal tidak terjatuh kali ini.

Menghabiskan waktu hingga tengah hari

Perjalanan dengan banana boat pun usai. Kapal dihentikan di posisi yang kurang lebih sama dengan tadi pada saat keberangkatan. Entah mengapa saat saya turun dari kapal dan menjejaki tanah sedikit terasa aneh. Mungkin karena baru saja terlepas di lautan dan tidak dapat menjejaki tanah, dan juga pasir di dasar tanah di sini yang ikut bergerak turun saat kita menginjakinya. Sebelum kami benar-benar keluar dari perairan, kami foto-foto dahulu sesaat di depan banana boat yang tadi.


Pohon kelapa
Setelah itu, sembari menunggu beberapa yang masih bersenang-senang, saya, Antoni Wiguna, dan Hendry Setiadi (jika tidak salah ingat) duduk di bawah pohon kelapa sembari membicarakan beberapa topik termasuk fitur obrolan antar-asisten yang pada saat saya menulis kiriman ini sudah mulai saya garap. Namun tidak disangka-sangka tak lama setelah itu sebuah buah kelapa meluncur jatuh dari atas. Untungnya kelapa itu hanya jatuh di antara kami dan tidak menimpa salah satu dari kami. Setelah itu kami menjauhi pohon kelapa itu, mencari tempat lainnya yang lebih baik.

Ternyata tak lama setelah itu, pemandu setempat menyatakan bahwa makanan bagi kami sudah siap. Saya dan beberapa yang lainnya memutuskan untuk kembali setelahnya. Beberapa yang tidak pulang masih bertahan di pantai itu, bermain air, atau bahkan menceburkan diri dari atas jembatan. Sama seperti saat perginya, saya diantar pemandunya dengan sepeda motor sedangkan yang lainnya pulang menggunakan sepeda menuju rumah tinggal.

Setibanya di rumah, saya pergi mandi terlebih dahulu. Mungkin sudah agak siang untuk mandi tapi biarlah, sekalian juga mengganti baju yang sudah basah tadi saat menaiki banana boat. Selesai mandi dan berkemas-kemas, tibalah saatnya untuk menikmati santapan terakhir dalam perjalanan ke Tidung kali ini yang ternyata sudah rapi dikemas agar siap untuk dibawa pulang - walaupun kami tetap memakannya di tempat. Setelah itu, tak lupa juga saya dan beberapa yang lainnya mencicipi 'Pop Ice' yang dijual di warung sekitar. Bisa dibilang 'Pop Ice' ini cukup murah, lengkap dengan choco chip dan keju dan hanya tiga ribu rupiah. Bila di Jakarta sudah tentu bisa lima ribu rupiah atau lebih.

Perjalanan pulang

Tidak lama setelah selesai makan, rombongan yang lainnya pun tiba. Saat itu, saya mendengar bahwa kapal yang menuju Jakarta akan diberangkatkan pada jam dua-belas siang. Sembari menunggu beberapa selesai makan dan berkemas, serta menghabiskan waktu menuju jam dua-belas, seperti biasa, kami meluangkannya dengan bermain kartu dan menonton televisi.


Foto di depan pos siskamling di seberang rumah
Tak terasa jam dua-belas pun tiba, dan seharusnya ini lah saat kami terakhir di Tidung pada perjalanan kami kali ini. Untuk itu sebelum berangkat ke pelabuhan, kami semua berfoto-foto dahulu di depan pos siskamling di seberang rumah tempat kami tinggal, dan tentu saja tidak lupa mengucapkan terima kasih pada pemilik rumah. Setelah puas berfoto-foto, kami pun berangkat menuju pelabuhan. Setelah tadi berpisah dengan pemilik rumah, kali ini kami berpisah dengan pemandu setempat sebelum akhirnya kami semua menaiki kapal yang sudah siap berangkat.

Kali ini sedikit berbeda dengan pada saat kedatangan. Cuaca yang lebih cerah: tidak hujan, penumpang yang lebih teratur, dan juga kali ini saya masih kebagian jaket keselamatan. Kami duduk di lantai bawah kapal, dan kali ini saya dapat melihat keadaan di luar. Ketika kapal mulai bergerak kemudian, saya dapat melihat bagaimana sulitnya kapal ini berputar balik untuk mengubah arah, karena sempat beberapa kali berbenturan dengan kapal lain di sekitarnya.

Terjebak di tengah laut (bagian kedua)

Kapal pun perlahan mulai meninggalkan pelabuhan Tidung dan berlayar menuju Jakarta. Kapal pun berlayar dengan lancar di hari yang cerah ini, dan kata Mahenda sekali pun ada masalah, ia sudah siap untuk menghadapinya. Saya sih berharap tidak akan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Namun tentunya, kita tidak dapat memperkirakan apa yang akan terjadi ke depannya.

Setelah beberapa jam berlalu dengan perjalanan kami yang indah, di mana saya bisa melihat situasi di luar, tidak disangka-sangka kapal mendadak berhenti. Saya pikir mungkin hanya kerusakan kecil dan sebentar lagi kapal akan berjalan kembali, namun ternyata tidak. Walau pun awalnya saya tidak panik, kini saya sudah mulai panik karena ombak pun sudah cukup kencang. Kapal pun sampai miring-miring berulang kali, mungkin sekitar tiga puluh derajat. Saking miringnya sehingga saat saya melihat ke arah jendela yang terlihat semua hanyalah lautan, tidak terlihat lagi bagian langit. O ya, jendela di sini hanya lah bagian kapal yang dilubangi, tidak ada kaca atau semacamnya. Dan lebih parah lagi, sempat beberapa kali air masuk melalui jendela itu.

Penumpang yang lainnya tak kalah paniknya, beberapa sudah saling menggapai jaket keselamatan, karena yang tersedia memang tidak cukup untuk semua penumpang. Beberapa yang lainnya mulai bolak-balik; ada seorang bapak yang berusaha memasukkan semua barang-barangnya ke dalam tas; ada pula seorang ibu yang kerap kali muntah di dekat jendela; bahkan ada yang selalu memarahi nakhodanya sampai-sampai ingin melaporkannya pada polisi ketika sudah sampai, padahal pastinya sang nakhoda juga sedang berusaha dan berpikir mengenai jalan keluarnya - bila diteriaki terus menerus, mungkin ia akan semakin bingung dan akan keliru memikirkan jalannya.

Suasana pun makin tidak nyaman, saya pun semakin khawatir karena ini di tengah lautan. Namun tak ada hal lain yang bisa saya lakukan kecuali berpasrah kepada Tuhan. Saya hanya duduk dan berharap bahwa ombak segera mereda dan terbebas dari situasi yang tidak menyenangkan ini. Waktu pun terasa berjalan sangat lama saat ini.

Ketidakpastian

Setelah entah berlalu berapa lama di tengah ombak lautan yang kencang ini, akhirnya ada datang juga sebuah kapal kecil. Namun sayangnya, kapal ini hanya bisa membantu kapal kami ini untuk menepi ke pantai terdekat, dan tidak bisa mengantarkan kami kembali ke Jakarta. Walaupun demikian, setidaknya kini saya sudah tidak terlalu panik, begitu pula dengan para penumpang yang lain, karena di sini sudah tidak ada ombak yang dapat memiringkan kapal. Kini sekali lagi kami semua menunggu adanya kapal besar yang mampu mengangkut kami semua.

Setelah menunggu entah berapa lama lagi, akhirnya datang juga sebuah kapal besar yang menepi. Tentunya kami semua langsung berpindah ke kapal tersebut setelah diberi aba-aba. Kami pindah tidak keluar dahulu dari atas seperti pada saat kami menaiki kapal ini, tapi melalui jendela antara kapal yang sudah didekatkan ini.

Di kapal ini, kami memutuskan untuk duduk di lantai dua dari kapal. Dari sini, kami bisa melihat pemandangan di luar melalui pintu besar di bagian belakang. Kapal mulai berjalan, dan perlahan semakin kencang, dan sepertinya lebih kencang dari kapal yang sebelumnya. Terasa goncangan kapal saat ia menaiki ombak. Saat kapal berbelok pun, rasanya lebih miring dari pada di kapal yang sebelumnya. Mungkin karena saya duduk di lantai dua kali ini. Selain itu, berembus pula angin kencang dari arah pintu tersebut. Beberapa orang sempat ke luar dan duduk di sana beratapkan langit, sambil menikmati suasana matahari terbenam di tengah laut yang cukup menawan.

Saya sudah merasa cukup lega sudah mendapatkan kapal yang dapat mengantarkan kami semua hingga akhirnya saya mengetahui bahwa kapal ini ternyata tidak menuju ke Jakarta. Akan kah kami semua dapat kembali ke Jakarta hari ini, itu lah yang sempat menjadi pertanyaan pada saat itu. Hari itu adalah Minggu, jadi jika tidak kembali hari itu juga, tentunya kami tidak bisa bekerja pada keesokan harinya... Sama seperti sebelumnya, tidak ada hal yang bisa kami lakukan pada saat ini, selain menantikan saja apa yang akan terjadi selanjutnya.

Larut sore, kapal pun berlabuh juga, dan ternyata kami semua tiba kembali di Pulau Tidung. Ada pula yang turun dahulu untuk ke toilet. Beberapa dari kami juga bertanya-tanya haruskah kami tinggal satu malam lagi di Pulau Tidung, lalu bertemu kembali dengan pemilik rumah dan menyatakan tidak jadi kembali ke Jakarta, dan menginap di sana kembali. Sebenarnya kami hanya menyewa rumah tersebut untuk dua malam. Akan kah kami diperbolehkan menginap untuk satu hari lagi di sana. Lalu bagaimana dengan jadwal kerja untuk besok. Semuanya penuh dengan ketidakpastian.

Perjalanan pulang (lagi)

Sebenarnya kami semua juga tidak diperintahkan untuk turun, jadi kami tetap tinggal di kapal. Penumpang asli kapal ini pun turun, berganti dengan penumpang yang naik dari Tidung hingga kapal pun penuh. Setelah menunggu tanpa kabar, akhirnya kapal pun mulai berlayar, menuju Jakarta pastinya.

Tidak ada yang istimewa saat pulang kali ini. Hari pun sudah berganti malam, dan tidak ada hal yang bisa dilakukan selain menunggu. Suasana di dalam kapal ini sendiri cukup gelap, karena hanya ada dua penerangan. Jika melihat ke arah luar kapal, yang terlihat hanya lah laut. Entah mengapa, perjalanan pulang kali ini terasa sangat lama.

Dan akhirnya, setelah lelah duduk cukup lama di dalam kapal, kami semua pun tiba kembali di Jakarta, tepatnya di Muara Angke. Kami semua turun dari lantai atas kapal lalu keluar dari kapal. Karena kapal kami tidak berada paling dekat dengan pelabuhan, karena ada kapal-kapal lain sebelumnya, kami harus melompati dan melewati kapal demi kapal untuk sampai di pelabuhan. Saat menapakan kaki di tanah, saya masih merasakan goncangan seolah masih di tengah lautan. Maklum, selama kurang lebih delapan jam tadi, kami semua berada di dalam kapal yang terombang-ambing di tengah lautan.


Sebelum kembali pulang, saya dan beberapa yang lainnya mampir terlebih dahulu ke toilet. Setelah itu kami semua keluar dari area pelabuhan, dan menuju tempat di mana angkot yang sudah kami charter sebelumnya sudah menanti. Kami pun berangkat kembali menuju kampus Anggrek. Di perjalanan kali ini, beberapa menyempatkan waktu untuk bercerita bagaimana perasaannya pada saat di dalam kapal tadi. Ada pula yang mengatakan bahwa perjalanan dari Gala Explorer kali ini benar-benar membuat galau.

O ya, di perjalanan pulang ini, sang kondektur sudah mengenakan topi yang lainnya dan tetap berdiri menggantung di luar. Namun kali ini, topinya tidak lepas tertiup angin lagi. Tidak ada kejadian menarik lainnya saat di angkot. Tak lama kemudian, kami semua pun tiba kembali di kampus Anggrek dengan selamat.

Dan dengan demikian, berakhirlah segala sesuatu yang bisa saya ceritakan mengenai perjalanan saya ke Pulau Tidung bersama Bluejack 10-1 yang penuh akan Unbelievable sights dan Indescribable feeling. Terima kasih bagi yang sudah membaca cerita saya dari awal hingga akhir. Sampai jumpa di kiriman selanjutnya dalam Isamu no Heya!

Sabtu, 21 Mei 2011

Sebelumnya kita sudah membahas pengalaman saya mempelajari subtitle, kali ini saya akan memberikan tutorial singkat bagaimana membuat subtitle sederhana. Mungkin sudah banyak tutorial untuk membuat subtitle di web bila ada searching di Google. Di sini akan saya jelaskan serinci mungkin.

Selain itu kebanyakan tutorial hanya menjelaskan pembuatan subtitle dalam format SRT, di sini akan saya jelaskan pula bagaimana membuat subtitle film dalam format ASS. Di samping itu banyak yang memberi tutorial menggunakan software yang sama sekali Anda belum kenal, belum punya, bahkan software berbayar atau berlisensi. Alih-alih menggunakan AegiSub, CaptionMaker, SubtitleEdit, Subtitle Studio, Subtitle Workshop, SubRip, MovieCaptioner, atau mungkin program-program lain yang sejenis yang mungkin agak rumit dan sulit, di sini kita akan menggunakan program yang sudah pasti Anda kenal, yaitu Notepad.

Sebelum kita mulai, mungkin Anda berminat melihat terlebih dahulu kiriman sebelumnya, bagian pertama dari artikel ini.

Jadi, kapan kita memakai SRT dan bagaimana cara/langkah membuatnya?

Bisa dilihat bahwa yang pertama kali saya coba adalah SRT karena memang lebih mudah dibuat, bisa dengan Notepad. Sedang ASS lebih rumit, dan akan sangat sulit bila hanya menggunakan Notepad. Namun ada beberapa perbedaan fitur yang mencolok.

SRT tidak mendukung font style lanjutan seperti line spacing dan letter spacing, sehingga semua teks yang muncul akan sesuai default player, biasanya Arial. Yang bisa diubah hanya alignment, bold, italic, underline, strikethrough dan warna, jenis, dan ukuran font dengan menggunakan tag HTML standar yaitu <b>, <i>, <u>, <s>, dan <font color="#RRGGBB" face="XXX" size="##">.

Bila pemutar video Anda mendukungnya, tag ASS bisa pula disisipkan di sini (walaupun tidak dianjurkan). Tag ASS yang umum disisipkan dalam SRT adalah tag {\an}. Tag ini digunakan untuk mengubah posisi teks sesuai dengan tata letak Numperic Pad pada keyboard. Misalnya saja {\an8} untuk meletakan di teks di atas tengah. Lihat bagian V4+ Styles di bawah untuk peletakan subtitle di bagian lain dari video.

Misalnya untuk menghasilkan tulisan yang dicetak miring dan berwarna merah dengan font Comic Sans MS dan ukuran 14 di bagian atas layar seperti ini, maka yang perlu diketik adalah:



{\an8}<font color="#FF0000" face="Comic Sans MS" size="14"><i>Tulisan yang ingin dicetak merah dan miring dengan ukuran 14 dari font Comic Sans MS</i></font>


Mudah bukan?
Untuk menulis subtitlenya sendiri juga tidak sulit. Hanya perlu nomor urut, waktu mulai dan waktu akhir, serta tulisan beserta tag yang ingin ditampilkan. Jangan lupa tambahkan pula satu baris kosong setelahnya. Seperti ini contohnya:

1
00:00:00,600 --> 00:00:02,000
「TALES OF THE ABYSS」 Anime Opening Song:
<b>『Karma』《カルマ》</b> sung by: Bump of Chicken

2
00:00:04,000 --> 00:00:06,500
GARASUdama hitotsu otosareta
ガラス玉一つ 落とされた
Kelereng satu dijatuhkan, kukejar,

Pada contoh di atas, teks akan muncul dua kali. Yang pertama pada detik ke 0,6 sampai detik kedua berisi dua baris yaitu: "「TALES OF THE ABYSS」 Anime Opening Song:" pada baris pertama dan "『Karma』《カルマ》sung by: Bump of Chicken" pada baris kedua, dimana ada yang dicetak tebal.

Teks berikutnya akan muncul pada detik ke 4 selama 2,5 detik (sampai detik ke 6,5) yang berisi tiga baris yaitu "GARASUdama hitotsu otosareta", "ガラス玉一つ 落とされた", dan "Kelereng satu dijatuhkan, kukejar". Begitu seterusnya.

Setelah selesai, pilih Save as... pada Notepad. Simpan dengan nama file videonya tanpa ekstensi diikuti dengan ".srt", pilih Save as type dengan "All files" dan Encoding dengan "ANSI" bila berisi hanya huruf latin, atau dengan "UTF-8" bila tidak. Dengan demikian, subtitle kita sudah jadi. Selamat mencoba!

Jadi, kapan kita memakai ASS dan bagaimana cara/langkah membuatnya?

ASS dapat kita pakai bila SRT biasa tidak lah cukup. Seperti yang sudah saya jelaskan di kiriman sebelumnya, ASS dapat mendukung semua yang SRT bisa ditambah dengan animasi pergerakan dan perubahan ukuran teks (moving dan tweening), cara dan urutan peletakan teks (alignment dan layering), membangun bentuk dua dimensi (shape), melakukan penutupan sebagian teks (clipping dan masking), gaya tulisan (styling), dan juga pembuatan skrip karaoke. Teks pun bisa dimodifikasi lebar dan tingginya, jarak antar huruf, jarak antar baris dan sebagainya. Bahkan ASS mendukung 3D-EFFECT pada teks dan shape yang kita buat.

Lalu bagaimana cara membuatnya? Karena berbagai fitur yang ia dukung, maka membuat ASS tidak lah semudah membuat SRT. Sebelum memulai, Anda harus mengetahui bahwa ada tiga bagian yang harus ada pada ASS yaitu: bagian informasi skrip, bagian style, dan bagian event. Beikut ini adalah penjelasan masing-masing bagian tersebut.

Bagian [Script Info]

Ada beberpa hal yang perlu Anda tentukan di sini, di antaranya:
  • ScriptType: versi skrip ASS/SAA yang Anda gunakan ("v4.00+" untuk ASS)
  • *Title: judul dari dokumen subtitle Anda
  • *Original Script: sumber naskah asli
  • *Original Translation: penerjemah asli
  • *Original Editing: penyunting asli
  • *Original Timing: penyelaras asli
  • *Script Updated By: penyunting akhir subtitle
  • *Update Details: versi subtitle
  • Collisions: pengaturan tabrakan teks bila beberapa teks muncul bersamaan.
    Misalkan ada teks A muncul dari detik 1 hingga 5, dan teks B muncul pada detik 3 hingga 10.
    -Normal jika ingin A muncul di bagian bawah lalu saat B muncul B akan ditampilkan di atas A;
    -Reverse jika ingin A dimunculkan agak di tengah (menyisakan space untuk si B),
     lalu saat B muncul, B akan ditampilkan di bawah A
  • WrapStyle: pengaturan pemotongan baris panjang
    -0 untuk pemotongan otomatis, dengan baris atas lebih panjang dari pada baris bawah
    -1 untuk pemotongan baris per kalimat. Kalimat yang panjang mungkin melebihi lebar video
    -2 untuk tidak ada pemotongan. Semua akan ditampilkan dalam satu baris
    -3 untuk pemotongan otomatis, dengan baris atas lebih pendekdari pada baris bawah
    Saat Anda menggunakan tipe 1 dan 2, pastikan lebar teks tidak lebih lebar dari lebar video.
    Gunakan "\N" untuk menyisipkan Enter pada skrip subtitle Anda.
  • ScaledBorderAndShadow: pengaturan pengukuran tepi dan bayangan
    -yes jika ingin pengukuran berdasarkan persen, sehingga akan diskalakan sesuai resolusi video
    -no jika ingin ukuran tetap, sehingga jika diputar pada video dengan resolusi tinggi, teks akan terlihat kurus.
  • *Video File: video yang ingin diload otomatis saat subtitle ini dibuka
  • *Audio File: video yang ingin diload otomatis saat subtitle ini dibuka
    ("?video" untuk mengambil audio dari video)
  • PlayResX: lebar video Anda (pertimbangan ukuran shape&posisikan teks)
  • PlayResY: tinggi video Anda (pertimbangan ukuran shape&posisikan teks)
  • *PlayDepth: kedalaman warna yang digunakan dalam subtitle dan video
  • *Video Aspect Ratio: rasio lebar dan tinggi video Anda (4:3, 14:9, 16:9, 16:10)
  • *Video Zoom: perbesaran pemutar video saat subtitle ini dibuka
    -1  untuk 12,5% ukuran asli video
    -2  untuk 25,0% ukuran asli video
    -3  untuk 37,5% ukuran asli video
    -4  untuk 50,0% ukuran asli video
    -5  untuk 62,5% ukuran asli video
    -6  untuk 75,0% ukuran asli video
    -7  untuk 87,5% ukuran asli video
    -8  untuk 100,0% ukuran asli video
    -9  untuk 112,5% ukuran asli video
    -10 untuk 125,0% ukuran asli video
    -11 untuk 137,5% ukuran asli video
    -12 untuk 150,0% ukuran asli video
    -13 untuk 162,5% ukuran asli video
    -14 untuk 175,0% ukuran asli video
    -15 untuk 187,5% ukuran asli video
    -16 untuk 200,0% ukuran asli video

  • *Video Position: posisi waktu video saat subtitle ini dibuka
  • *Last Style Storage: style yang langsung terpilih saat subtitle ini dibuka
  • *Synch Point: posisi terakhir subtitle diperiksa
  • Timer: percepatan atau perlambatan subtitle
    (100,0000 untuk sesuai dengan bagian skrip, di bawah 100 akan mempercepat, di atas 100 akan memperlambat)
Atribut di atas yang diawali bintang berarti opsional, tidak wajib dicantumkan, atau tidak akan berpengaruh pada tampilan subtitle Anda saat diputar bersama video. Urutan penulisan script info ini buleh dibalik-balik. Anda juga menambahkan komentar dengan mengawali baris tersebut dengan titik koma.

Bagian [V4+ Styles]

Dalam satu subtitle bisa memuat beberapa style. Ada beberpa hal yang perlu Anda tentukan di sini, di antaranya adalah:
  • Name: nama style yang ingin dibuat
  • Fontname: nama font yang akan dipakai
  • Fontsize: ukuran font yang akan dipakai
  • PrimaryColour: warna tulisan (dalam format &HAABBGGRR)
  • SecondaryColour: warna tulisan sebelum dinyanyikan. Saat ada skrip karaoke, SecondaryColour akan berubah menjadi PrimaryColor
  • OutlineColour: warna garis terpi tulisan
  • BackColour: warna bayangan tulisan
  • Bold: penebalan tulisan. -1 untuk ya atau 0 untuk tidak
  • Italic: pemiringan tulisan. -1 untuk ya atau 0 untuk tidak
  • Underline: penggarisbawahan tulisan. -1 untuk ya atau 0 untuk tidak
  • StrikeOut: pencoretan tulisan. -1 untuk ya atau 0 untuk tidak
  • ScaleX: pelebaran tulisan dalam persen. 100 untuk normal
  • ScaleY: peninggian tulisan dalam persen. 100 untuk normal
  • Spacing: jarak antar karakter dalam piksel
  • Angle: kemiringan dalam sumbu z dalam derajat
  • BorderStyle: beri kotak di belakang tulisan. -1 untuk ya atau 0 atau 1 untuk tidak
  • Outline: ketebalan garis tepi dalam piksel
  • Shadow: jarak antara tulisan dengan bayangannya dalam piksel
  • Alignment: lokasi penempatan tulisan sesuai dengan posisi Numeric Pad.
    - 7 agar subtitle muncul di bagian kiri atas layar video
    - 8 agar subtitle muncul di bagian tengah atas layar video
    - 9 agar subtitle muncul di bagian kanan atas layar video
    - 4 agar subtitle muncul di bagian kiri tengah layar video
    - 5 agar subtitle muncul di bagian tengah-tengah layar video
    - 6 agar subtitle muncul di bagian kanan tengah layar video
    - 1 agar subtitle muncul di bagian kiri bawah layar video
    - 2 agar subtitle muncul di bagian tengah bawah layar video
    - 3 agar subtitle muncul di bagian kanan bawah layar video
  • MarginL: jarak dari tepi kiri video ke subtitle dalam piksel
  • MarginR: jarak dari tepi kanan video ke subtitle dalam piksel
  • MarginV: jarak dari tepi atas maupun bawah video ke subtitle dalam piksel
  • Encoding: text-encoding yang digunakan. 1 untuk default. 0 untuk ANSI
Tidak seperti pada Script Info, semua yang ada di bagian ini wajib diisi, dan juga harus ditulis berurutan sehingga di awal pasti nama stylenya dan diakhir adalah encodingnya.
Untuk melihat contoh di bawah ini, browser Anda harus mendukung CSS3. Pelebaran 150% dan Peninggian 125% tidak ditampakan di sini.




Misalnya untuk menghasilkan tulisan yang dicetak miring dan berwarna biru, warna karaoke abu-abu, warna garis tepi putih dan 1/4 transparan (64) tebal 2px , warna bayangan kuning dan 1/2 transparan (128) jarak 1px dengan font Comic Sans MS dan ukuran 10pt yang dilebarkan menjadi 150% dan ditinggikan 125%, jarak antar karakter 2px, diletakan di bagian kiri bawah layar dengan margin atas 10px, sedangkan margin kiri-kanannya 25px seperti ini, default encoding, maka yang perlu diketik adalah:

Style: NamaStyle,Comic Sans MS,10,&H00FF0000,&H00808080,&H40FFFFFF,&H8000FFFF,

0,-1,0,0,150,125,2,0,1,2,1,1,25,25,10,1


Bagian [Events]

Di dalam bagian sini lah kita menuliskan segala teks dan tag yang ada. Ada beberpa hal yang perlu Anda tentukan di sini, di antaranya adalah:
  • Baris Dialogue atau Comment
  • Layer: Lapisan, mirip dengan yang ada di Flash maupun Photoshop.
    Semakin besar nilai layer, maka ia akan menimpa teks di layer yang lebih kecil.
  • Start: waktu teks tersebut mulai ditampilkan (dalam h:mm:ss.uu)
  • End: waktu teks tersebut selesai ditampilkan (dalam h:mm:ss.uu)
  • Style: nama style yang digunakan untuk teks baris tersebut
  • Name: nama pemeran/tokoh yang sedang berbicara pada teks ini
  • MarginL: perubahan marginL dari style (0 untuk mengikuti style)
  • MarginR: perubahan marginR dari style (0 untuk mengikuti style)
  • MarginV: perubahan marginV dari style (0 untuk mengikuti style)
  • Effect: efek awal karaoke, ataupun komentar tentang baris ini.
  • Text: teks yang ingin ditampilkan ke layar, beserta dengan tag tambahan bila perlu

Berikut ini adalah beberapa tag yang sering dipakai untuk disisipkan di dalam Text. Lihat pula bagian v4+ Styles di atas untuk informasi lebih lengkap.
  • Enter: \n
  • Hardspace: \h. Tidak seperti spasi, karakter yang dipisah dengan hard-space tidak bisa dipisahkan barisnya (warp text menjadi tidak berfungsi)
  • Fontname: {\fnNama font}
  • Fontsize: {\fsUkuran font}
  • PrimaryColour and Alpha: {\1c&HBBGGRRH} dan {\1a&HAA}
  • SecondaryColour and Alpha: {\2c&HBBGGRRH} dan {\2a&HAA}
  • OutlineColour and Alpha: {\3c&HBBGGRRH} dan {\3a&HAA}
  • BackColour and Alpha: {\4c&HBBGGRRH} dan {\4a&HAA}
  • Bold: {\b1} sebagai <b>, dan {\b0} sebagai </b>
  • Italic: {\i1} sebagai <i>, dan {\i0} sebagai </i>
  • Underline: {\u1} sebagai <u>, dan {\u0} sebagai </u>
  • StrikeOut: {\s1} sebagai <s>, dan {\s0} sebagai </s>
  • ScaleX: {\fscxPersentase}
  • ScaleY: {\fscyPersentase}
  • Spacing: {\fspJarak}
  • Angle sumbu X, Y, dan Z: {\frxDerajat}, {\fryDerajat}, dan {\frzDerajat}
  • Outline: {\bordKetebalan}
  • Shadow: {\shadJarak bayangan}
  • Alignment: {\anAngka 1-9 sesuai Numeric Pad}
  • Posisition: {\move(x,y)}
  • WarpStyle: {\qAngka 0-3}
  • Encoding:{\feID text-encoding}
  • Animasi Fade-in Fade-out: {\fad(lama fadein dlm milidetik,lama fadeout dlm milidetik)}
  • Animasi Perpindahan Teks: {\move(x awal,y awal,x akhir,y akhir)}
  • Animasi Karaoke: {\kwaktu}. Download contoh subtitle di bawah untuk penggunaannya.

Masih ada banyak lagi tag ASS, misalnya untuk membuat objek 2D, animasi lainnya, skrip karaoke, dan lain-lain, untuk mempelajari silakan baca-baca di sini.

Contoh penulisan ASS adalah sebagai berikut: Untuk melihat contoh di bawah ini dengan benar, browser Anda harus mendukung HTML5.
[Script Info]
; Script generated by Aegisub 2.1.8
; http://www.aegisub.org/
Title: I Not Stupid subtitle
Original Script: English sub, from IDWS
Original Translation: William Surya Permana
Original Editing: William Surya Permana
Original Timing: William Surya Permana
ScriptType: v4.00+
Collisions: Normal
WrapStyle: 0
PlayResX: 640
PlayResY: 480
ScaledBorderAndShadow: yes
Last Style Storage: Default
Video Aspect Ratio: 0
Video Zoom: 6
Video Position: 0

[V4+ Styles]
Format: Name, Fontname, Fontsize, PrimaryColour, SecondaryColour, OutlineColour, BackColour, Bold, Italic, Underline, StrikeOut, ScaleX, ScaleY, Spacing, Angle, BorderStyle, Outline, Shadow, Alignment, MarginL, MarginR, MarginV, Encoding
Style: Thoughts,Trebuchet MS,24,&H00FFFFFF,&H00808080,&H20400000,&HC0FF5E00,0,0,0,0,100,100,0,0,1,1.5,2.5,2,10,10,10,0
Style: Intro,Arial,26,&H00FFFFFF,&HFF0000FF,&HFF000000,&HFF000000,-1,0,0,0,100,100,0,0,1,2,2,5,10,10,10,0
Style: ICreditsY,Arial,26,&H0000FFFF,&HFF0000FF,&HFF000000,&HFF000000,0,0,0,0,100,100,0,0,1,2,2,5,10,10,10,0
Style: ICreditsW,Arial,24,&H00FFFFFF,&HFF0000FF,&HFF000000,&HFF000000,0,0,0,0,100,100,0,0,1,2,2,5,10,10,10,0

[Events]
Format: Layer, Start, End, Style, Name, MarginL, MarginR, MarginV, Effect, Text
Dialogue: 0,0:00:08.48,0:00:13.36,Intro,,0000,0000,0000,,{\pos(319,205)\fad(600,600)}Bisa beri sedikit sorakan?
Dialogue: 0,0:00:25.20,0:00:28.34,Intro,,0000,0000,0000,,{\pos(319,185)\fad(600,600)\fscx150\fscy150}Mengapa kalian begitu menurut!!?
Dialogue: 0,0:00:31.60,0:00:34.60,ICreditsW,,0000,0000,0000,,{\fad(900,600)\pos(468,245)}mempersembahkan
Dialogue: 0,0:00:41.20,0:00:44.28,ICreditsW,,0000,0000,0000,,{\fad(600,400)\pos(335,140)\fnFormal436 BT\fscx175\fscy175}Anak-anak Tidak Bodoh
Dialogue: 0,0:00:41.20,0:00:44.28,ICreditsW,,0000,0000,0000,,{\fad(900,600)\an2}Diterjemahkan oleh William Surya Permana
Dialogue: 0,0:01:40.92,0:01:44.24,ICreditsY,,0000,0000,0000,,{\fad(600,600)\pos(263,270)}Produser
Dialogue: 0,0:00:52.55,0:00:57.18,Thoughts,,0000,0000,0000,,Inilah penjara dimana kami selalu berada.

Setelah selesai, pilih Save as... pada Notepad. Simpan dengan nama file videonya tanpa ekstensi diikuti dengan ".ass" atau ".ssa", pilih Save as type dengan "All files" dan Encoding dengan "ANSI" bila berisi hanya huruf latin, atau dengan "UTF-8" bila tidak. Dengan demikian, subtitle kita sudah jadi. Selamat mencoba!

Demikianlah yang bisa saya ajarkan kali ini. Saya harap, dengan panduan dan pedoman yang lengkap serta mudah ini dapat berguna bagi Anda, dan semoga sekarang Anda dapat membuat subtitle baru Anda sendiri hanya dengan bermodal Notepad.

Di mana saya bisa mengunduh/men-download semua subtitle di atas?

Nah bagi yang masih kurang jelas dengan contoh-contoh di sini, dan ingin melihat versi lengkap dari subtitle tersebut sehingga bisa mempelajari lebih dalam, atau mungkin bagi yang hanya ingin menggunakan subtitle berbahasa Indonesia tersebut untuk menonton film kesayangannya, semua bisa di download di share folder Mediafire saya.

PENTING: Dilarang mengakui subtitle ini sebagai milik Anda. Hindarilah perkara hukum.

- Subtitle format ASS "I Not Stupid" Film
   (1994 kali teks muncul, 207KB)      DOWNLOAD DI SINI
   Termasuk: Terjemahan percakapan, terjemahan penunjuk jalan dan sejenisnya di film,
   lirik karaoke lagu dalam Hanzi dan Hanyu Pinyin serta terjemahan bahasa Indonesianya.

- Subtitle format ASS "Everyone is No.1 - Andy Lau" Video clip
   (468 kali teks muncul, 66KB)          DOWNLOAD DI SINI
   Termasuk: lirik karaoke lagu dalam Hanzi dan Hanyu Pinyin serta terjemahan Indonesianya.

- Subtitle format SRT "Yamakasi 2" Film
   (395 kali teks muncul, 31KB)          DOWNLOAD DI SINI
   Termasuk: Terjemahan percakapan dalam bahasa Indonesia.

- Subtitle format SRT "Karma - Bump of Chicken" (Opening Tales of the Abyss) Video clip
   (28 kali teks muncul, 4KB)             DOWNLOAD DI SINI
   Termasuk: lirik lagu dalam Kanji dan Romaji serta terjemahan bahasa Indonesianya.

Bila ada yang kurang jelas, Anda bisa meninggalkan komentar di bawah ini. Saya akan membantu jika memungkinkan. Terima kasih telah membaca tutorial ini, dan sampai jumpa!

Selasa, 17 Mei 2011

Hai, sekali lagi, bagi yang mungkin sudah menanti-nanti kelanjutan dari kisah wisata saya ke Pulau Tidung, akan terseling dengan kiriman ini terlebih dahulu. Namun tenang saja, pastinya kisah itu akan diselesaikan. Sepertinya dalam satu kiriman lagi. Pada kesempatan kali ini, saya ingin sedikit berbagi mengenai pengalaman saya dalam membuat subtitle dan juga bagaimana cara membuatnya.

UPDATE: Baca kelanjutannya di sini.

Subtitle terbaru saya

Sekitar dua minggu yang lalu, tepatnya, pada 5 Mei 2011, saya baru saja menyelesaikan substitle dengan format Advanced SubStation Alpha (.ass) untuk film yang pertama kalinya. Bagi yang ingin tahu mengapa saya membuatnya, sebenarnya hanya iseng, ingin merasakan bagaimana sih cara membuat subtitle.

Subtitle yang terakhir saya buat ini adalah untuk film I Not Stupid yang terdiri dari 1900 kali teks muncul dalam 206KB file ass. Dalam satu kali teks itu sendiri bisa sampai dengan tiga baris bila diputar di videonya. Subtitle ini memuat pula lirik dan terjemahan dua lagu di dalam film ini, juga beberapa terjemahan sign yang ada pada videonya.

Subtitle lainnya dan aplikasi pembuatnya

Sebenarnya sebelum membuat subtitle ini saya pernah juga membuat beberapa subtitle softsub lainnya, di antaranya, dari yang terbaru, adalah:
- ASS Video clip "Everyone is No.1 - Andy Lau" (468 kali teks muncul, 66KB)
- SRT Film "Yamakasi 2" (395 kali teks muncul, 31KB)
- SRT Video clip "Karma - Bump of Chicken" (Opening Tales of the Abyss) (28 kali teks muncul, 4KB)

Sedangkan untuk subtitle hardsub, entah sudah berapa kali saya buat, yang jelas sudah puluhan kali. Untuk hardsub ini sudah mulai lakukan sejak saya masih SMP dulu. Aplikasi yang saya pakai pun hanya Macromedia Flash (sekarang Adobe Flash). Untuk memberi hardsub, saya biasanya mengimpor video dan audionya ke dalam Flash, lalu menambahkan beberapa subtitle memakai Text Tool, lalu mengekspornya kembali. Lamanya proses ekspor-impor tersebut lah yang membuat saya beralih ke softsub. Namun tetap saja, dalam kasus membuat VCD, tetap saja harus memakai hardsub.

Sedangkan untuk softsub, pertama kali saya coba saat saya SMA. Pembuatan softsub bisa lebih cepat daripada hardsub, karena file video dan subtitlenya terpisah dan tidak perlu ekspor-impor (kecuali ingin di-embed ke dalam file MKV). Dengan memakai tekhnik softsub, penambahan subtitle tidak akan mengurangi kualitas video seperti pada saat memakai tekhnik hardsub.

Aplikasi yang saya pakai dalam membuat subtitle softsub ini pun beragam. Mulai dari Notepad — ya, dengan hanya Notepad biasa yang langsung terpasang saat install Windows ini, Anda bisa membuat subtitle! — hingga kemudian beralih ke Subtitle Edit untuk format SRT dan AegiSub untuk format ASS dan SSA.

Apa yang saya pelajari saat membuat SRT?

Pada awalnya saya mencoba SRT video clip "Karma" yang memuat lirik Romaji, Kanji, dan terjemahan Indonesia. Saya mencoba ini karena ingin tahu bagaimana memuat subtitle yang memuat karakter selain ASCII/ANSI. Tentunya kalau hanya memuat ANSI, bisa langsung di-save menggunakan Notepad tanpa pengaturan khusus.

Dari sini saya mendapat pengetahuan bahwa untuk membuat subtitle yang memuat karakter non-latin harus menggunakan text-encoding khusus. Yang saya coba adalah Unicode dan UTF-8. Keduanya didukung oleh Notepad (pada saat Save as, tinggal mengubah drop-down list Encoding). Ternyata beberapa video player tidak mendukung benar Unicode dan mengakibatkan mojibake, sehingga saya putuskan menggunakan UTF-8 saja, yang didukung berbagai video player, dalam pembuatan SRT berkarakter non-latin lain waktu.

Di saat kedua, saya mencoba sesuatu yang lebih panjang, yaitu film "Yamakashi 2". Tidak ada tekhnik khusus dalam pembuat subtitle yang saya pelajari dari sini. Yang saya pelajari kali ini adalah bagaimana mengubah softsub yang saya buat menjadi hardsub yang akan ditampilkan dalam format VCD. Saya menggunakan MediaCoder untuk melakukan ini.

Apa yang saya pelajari saat membuat ASS?

Ketiga, saya mencoba format subtitle yang berbeda, yaitu ASS. ASS ini sering dipakai para fansuber anime. Saya sendiri mempelajarinya dengan membongkar MKV dan mengeluarkan ASSnya saja dari salah satu file anime Code Geass yang saya miliki. Proses membongkar dan mengeluarkan ini disebut dengan Demultiplexing, demux untuk pendeknya. Aplikasi yang saya pakai adalah Matroska Demux Tool.

Saat membuat subtitle video clip "Everyone is No.1" ini saya mempelajari bagaimana membuat animasi pergerakan dan perubahan ukuran teks (moving dan tweening), cara dan urutan peletakan teks (alignment dan layering), membangun bentuk dua dimensi (shape), melakukan penutupan sebagian teks (clipping dan masking), gaya tulisan (styling), dan juga pembuatan skrip karaoke dimana warna tulisan akan berubah seiring dengan berjalannya waktu. Di ass saya ini juga memuat lirik hanzi, sehingga saya juga belajar bagaimana membuat subtitle ass yang memuat huruf non-latin.

Yang terakhir, saya membuat ass untuk film "I Not Stupid". Tidak banyak yang saya pelajari di sini. Hanya bagaimana menampilkan beberapa teks bersamaan dan tidak menumpuk. Di sini karena saya juga menambahkan teks untuk lirik dan terjemahan lagu latar belakang, di mana ada pula percakapan pada saat itu, sehingga kedua teks tersebut harus diatur sedemikian rupa.

Jadi, kapan kita memakai SRT dan bagaimana cara membuatnya?
Jadi, kapan kita memakai ASS dan bagaimana cara membuatnya?
Di mana saya bisa mengunduh/men-download semua subtitle di atas?

Tenang, santai dulu. Semuanya akan saya bagikan di kiriman saya yang selanjutnya. Berhubung, saya perlu tidur dulu sekarang. Sudah malam :). Jadi pantau terus Isamu no Heya dan nantikan kelanjutannya! Sampai jumpa.

UPDATE: Baca kelanjutannya di sini.